Sejak awal munculnya peringkat Webometrics awal Januari lalu, kita dapat melihat betapa dunia pendidikan tinggi Indonesia gempar.

Para petinggi PT yang merasa berada berada di peringkat atas webometrics langsung saja merasa dirinya adalah World Class University dan gembar-gembor kesana kemari dengan penuh kepercayadirian, sementara PT yang berada di nomor bontot segera buru-buru mencari cara untuk menaikkan peringkat webometricsnya… Bahkan di kampus saya, Rektorat membuat kebijakan khusus untuk menaikkan peringkat webometrics dalam waktu singkat.

Sebelum mengakui Webometrics sebagai parameter World Class University, ada baiknya kita lihat dulu apa sih parameter Webometrics dalam memeringkat universitas?

1. Size (S). Jumlah halaman yang ditemukan dalam Google, Yahoo, Live Search dan Exalead. (Makin banyak halaman yang ada dalam satu domain, berarti domainnya memiliki size besar)

2. Visibility (V). Jumlah link dari website lain yang bila di-klik akan menuju ke domain universitas (link masuk)

3. Rich Files (R). Relevansi publikasi dan file upload dari universitas terhadap keilmuan dari universitas tersebut.

4. Scholar (Sc). Jumlah paper dan pustaka dalam domain universitas yang berhasil ditemukan dengan Google Scholar.

Apakah menurut Anda, semua parameter tersebut menggambarkan sebuah World Class University secara utuh? Jelas tidak!

Bila parameter tersebut menggambarkan sebuah universitas yang unggul, artinya universitas yang unggul adalah universitas yang semua muridnya jago bermain SEO (baca: SEO di Wiki) bukan?

Ayolah para petinggi universitas di Indonesia, jangan mau dibohongi oleh lelucon ini… Tak usah pedulikan orang-orang yang gembar-gembor World Class University dari Webometrics. Lebih baik kita mengembangkan keilmuan kita terus agar peringkat kita di Academic Ranking of World Universities (ARWU) atau QS Asian University Rankings terus meningkat… Karena dari sanalah World Class University benar-benar dinilai.